Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pernahkah kita benar-benar merasa haus? Bukan hanya haus karena berjalan jauh, tetapi haus karena ketiadaan sumber air. Bayangkan orang Israel di padang gurun: panas, debu, lapar, dan terutama haus. Dalam kondisi itu, mereka bersungut-sungut dan meragukan Allah. Tetapi Allah, dengan kasih-Nya, menyediakan air dari batu karang.
Air yang mustahil keluar dari batu kering itu, justru menjadi tanda kasih dan kesetiaan Allah. Air sebagai lambang kehidupan: Di padang gurun, air adalah hidup. Tanpa air, manusia mati. Dalam dunia kita hari ini, air pun sering jadi sumber krisis seperti kekeringan, pencemaran, dan perebutan sumber daya. Keluaran 17 dan Mazmur 95 mengingatkan bahwa Allah adalah sumber air hidup. Tapi hati manusia sering mengeras dan tidak percaya, bahkan merusak.
Kasih Allah dalam Kristus: Paulus dalam Roma 5 menegaskan tentang Allah menunjukkan kasih-Nya ketika Kristus mati untuk kita yang berdosa. Inilah dasar pembaruan yaitu damai dengan Allah berarti juga damai dengan ciptaan. Kita tak lagi hidup dalam permusuhan, melainkan dalam rekonsiliasi.
Yesus Sang Air Hidup: Injil Yohanes menampilkan Yesus bertemu perempuan Samaria. Dialog mereka menembus sekat gender, etnis, dan agama. Air hidup yang Yesus tawarkan bukan hanya menghilangkan haus sesaat, melainkan memberi kehidupan kekal. Hal yang lebih indah adalah perempuan itu kemudian menjadi saksi bagi komunitasnya. Air hidup dari Kristus selalu mengalir, tidak berhenti pada diri kita, tapi meluas ke orang lain dan seluruh ciptaan.
Hari ini, dunia kita sedang haus akan keadilan, ketika air bersih hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Haus akan kelestarian, ketika sungai tercemar, hutan gundul, tanah tandus. Haus akan kasih, ketika manusia saling curiga dan bermusuhan. Kristus bangkit agar kita tidak lagi haus, tetapi dipuaskan oleh air hidup-Nya. Namun lebih dari itu, kita dipanggil untuk menjadi saluran air hidup itu dengan dengan menjaga kelestarian alam, berbagi sumber daya, menumbuhkan kasih dalam relasi, dan bersaksi tentang kasih Kristus.
Umat yang terkasih, kebangkitan Kristus memperbarui ciptaan. Mari kita percaya, menerima, dan mengalirkan air hidup itu. Jangan mengeraskan hati seperti di Meriba, tetapi bukalah hati agar kasih Kristus mengalir. Dunia menunggu kita sebagai gereja-Nya untuk menjadi saluran air hidup yang memulihkan ciptaan.
Dalam masa Prapaskah ini, kita mempersiapkan diri dengan menghayati karya Kristus Sang Sumber “air hidup” yang memulihkan relasi manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Kebangkitan Kristus memperbarui dunia yang haus: dunia yang dilanda kerusakan lingkungan, krisis air, perpecahan sosial, dan kekeringan rohani.
\Berita yang hendak disampaikan adalah bahwa iman kepada Kristus tidak boleh berhenti pada keyakinan pribadi, melainkan harus berbuah dalam tindakan nyata. Jika kita sungguh telah menerima air hidup dari Kristus, maka hidup kita dipanggil untuk menjadi saluran air itu bagi orang lain dan bagi ciptaan. Dalam dunia yang dipenuhi dengan keserakahan dan eksploitasi alam, gereja harus menjadi saksi kasih Allah dengan menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Air hidup dari Kristus memberi kita arah hidup baru yaitu hidup yang penuh kasih, adil, dan peduli. Dengan demikian, Injil bukan hanya kabar keselamatan bagi jiwa, tetapi juga kabar pembebasan bagi mereka yang tertindas, pemulihan bagi ciptaan yang rusak, dan pengharapan bagi generasi yang akan datang. Jemaat yang percaya pada kebangkitan Kristus dipanggil untuk ikut serta menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi ini melalui kesetiaan beribadah, ketaatan merawat lingkungan, dan keberanian bersaksi tentang kasih Kristus yang mengalir bagi semua.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/