Artikel GKJ Kronelan

Hari ini kita bersama akan menghayati dua peristiwa terkait dengan Yesus. Peristiwa pertama adalah Yesus memasuki Yerusalem. Kita menyebutnya dengan minggu Palma (atau Palmarum). Peristiwa kedua disebut dengan minggu sengsara. Sebab hari-hari yang Yesus lalui di minggu ini berat, bahkan teramat berat.

Semua yang dialami Yesus ternyata telah dinyatakan jauh sebelumnya. Yesus adalah pemenuhan janji Allah. Sayangnya, umat Israel – termasuk para pemimpin agamanya– yang kerap membaca Kitab Suci tidak menyadarinya. Mengapa? Karena mereka memiliki keinginannya sendiri dan Kitab Suci dibaca sesuai dengan keinginannya itu.

Menariknya, dalam dua peristiwa itu, alam semesta dilibatkan. Kita akan lihat peristiwa pertama, yaitu kisah masuknya Yesus ke Yerusalem. Dalam bacaan Injil disebutkan mereka menggunakan daun-daun ranting (Mat. 21:8). Daun-daun itu dipahami sebagai daun palma (atau palem).

Dalam budaya Yahudi, palma melambangkan kemenangan, kejayaan, dan kedamaian. Ketika bangsa Israel merayakan kemenangan, mereka sering menggunakan daun palma sebagai simbol sukacita. Mengapa sambutan terhadap Yesus sedemikian meriah? Bahkan orang-orang banyak itu berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosanna di tempat yang maha tinggi” (Mat. 21:9).

Karena mereka mengira Yesus adalah raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan. Yesus disebutkan naik keledai. Mengapa Yesus tidak jalan kaki saja? Atau naik kuda sebagaimana yang biasa dikendarai oleh pemimpin besar. Sekali lagi, itu semua sesuai dengan apa yang dikatakan Kitab Suci. Keledai bukanlah kendaraan perang, melainkan kendaraan beban.

Keledai juga menjadi simbol kesederhanaan sekaligus semangat berkarya yang dibawa oleh Yesus, yaitu menghadirkan damai. Dua simbol alam semesta itu menegaskan siapa Yesus dan untuk apa Yesus datang. Itu sebabnya mereka kecewa karena Yesus ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Kekecewaan itu membuat mereka dengan mudahnya juga berseru, “salibkan Yesus.” Seruan itu muncul ketika Pilatus meminta mereka memilih hendak membebaskan siapa: Yesus atau Barabas. Hukuman pun dijatuhkan: Salib! Salib adalah hukuman yang mengerikan. Tak hanya rasa sakit, tetapi juga rasa malu yang memerikan. Hingga pada akhirnya salib berat harus dipikul Yesus.

Catatan Injil menunjukkan semesta juga turut berduka. Disebutkan ada kegelapan yang menutupi bumi selama tiga jam (Mat. 27:45). Selain itu, gempa yang keras pun datang menggoyang bumi. Gempa itu menyebabkan robeknya tabir Bait Suci, yang dipahami sebagai tanda berakhirnya pemisahan antara Allah dan manusia, sehingga manusia dapat berjumpa dengan Allah.

Yesus menjadi Pengantaranya. Gempa juga menyebabkan peristiwa yang mengerikan ketika dibayangkan. Yaitu pintu kuburan yang terbuka. Lebih mengejutkan lagi terjadi kebangkitan orang kudus (Mat. 27:52). Peristiwa ini mengingatkan pada nubuat nabi Yehezkiel (lih. Yeh. 37). Lewat peristiwa itu hendak diingatkan bahwa Yesus memiliki kuasa atas semesta (lih. Mat. 28:18).

Dengan adanya peristiwa umat diundang untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Percaya pada Yesus memiliki dampak pada sesama dan semesta. Sebagaimana keterlibatan bagian dari semesta dalam kisah Yesus, kita pun dipanggil menjadi bagian dari penyalur karya keselamatan pada dunia ini. Sayangnya, model iman semacam ini sering kali tidak terlihat dalam kehidupan orang percaya saat ini.

Iman hanya dipahami terkait aku dan Tuhan. Itu sebabnya tak jarang orang percaya melanggar lampu lalu lintas, membuang sampah di got, membangun rumah di kawasan hijau, dan sebagainya. Apa akibatnya? Hidup bersama tidak menyenangkan. Orang lain dianggap lawan. Alam semesta hancur. Bencana alam terjadi di mana-mana. Tuhan Yesus menuntun kita semua. Amin.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin