Saudara yang terkasih, sering kali dalam kehidupan kita sebagai manusia, ada situasi-situasi tertentu yang membuat kita kehilangan arah. Dengan segala rutinitas atau bahkan dinamika kehidupan, kadang-kadang kita terjebak dalam ketidaksadaran akan kehadiran Yesus di sekitar kita. Ketidakmampuan ini membuat kita kadang bertindak dengan penuh kekawatiran, hidup semena-mena, atau bahkan kehilangan pengharapan. Namun, bacaan Alkitab pada Minggu Paskah-III ini mengajak kita untuk menyadari bagaimana sesungguhnya pemeliharaan Tuhan yang tidak berkesudahan yang seharusnya dapat terus mendorong kita hidup dengan penuh syukur dan tanggung jawab.
Seperti yang diungkapkan oleh pemazmur, dalam ungkapan syukurnya pemazmur mengingat bagaimana ia pernah mengalami situasi yang begitu sulit dan mencekam (ayat 1-4). Situasi itu sangat menekan diri pemazmur yang digambarkan membuatnya berada dalam kesesakan. Namun, atas kasih dan keadilan Allah, pemazmur diluputkan dari bahaya maut. Tuhan menganugerahkan kehidupan baginya. Oleh karena itu, pemazmur mengungkapkan syukur kepada Tuhan dengan menyerukan nama Tuhan. Kesadaran akan pemeliharaan Tuhan mendorong pemazmur untuk menyatakan pujian dan syukurnya kepada Tuhan.
Rasul Petrus menekankan hal yang lebih besar dalam kesaksiannya setelah peristiwa turunnya Roh Kudus. Dalam pimpinan Roh Kudus, Rasul Petrus dengan teguh memberitakan kepada banyak orang bahwa Yesus yang disalibkan kini dimuliakan sebagai Tuhan dan Kristus. Pada saat itu, orang banyak itu menerima perkataan Petrus dan juga bahkan memberi diri dibaptis. Pertobatan ini mengingatkan kita bahwa hidup sebagai orang percaya berarti hidup dengan orientasi baru.
Lalu bagaimana komunitas yang telah ditebus ini menjalani hidupnya di dunia? Surat 1 Petrus memberikan arah: kita dipanggil untuk hidup kudus dan bertanggung jawab sebagai “pendatang” di bumi Tuhan. Kehidupan orang percaya di dunia ini bukanlah kehidupan permanen. Kita bukan pemilik rumah ini (bumi), melainkan tamu atau pendatang. Sebagai tamu, sikap yang benar adalah penuh hormat kepada tuan rumah, yaitu Allah, dan menjaga rumah tempat kita menumpang. Dalam konteks ekologi, hal ini berarti kita dipanggil untuk hidup dengan penuh hormat dan tanggung jawab terhadap bumi—tidak merusaknya, melainkan merawatnya.
Pada ayat 22–23 menekankan kasih yang lahir dari kelahiran baru melalui firman Allah yang hidup. Kasih ini tidak boleh berhenti hanya kepada sesama manusia, tetapi juga harus terwujud dalam kepedulian terhadap ciptaan. Hidup kudus berarti hidup yang menghormati kehidupan: menjaga alam, mengasihi sesama, dan menolak keserakahan yang merusak bumi. Ketika kita menyadari bahwa bumi ini adalah rumah Allah, kita tidak lagi memperlakukannya sebagai benda mati, melainkan sebagai ruang kudus tempat wajah Allah dapat ditemukan. Namun sering kali, dalam perjalanan hidup, mata iman kita menjadi tumpul. Kita tahu kebenaran ini, tetapi gagal melihat kehadiran Allah yang nyata. Karena itu, Injil Lukas mengajak kita memasuki puncak pengalaman iman: perjumpaan pribadi yang membuka mata untuk melihat wajah Allah dalam segala hal.
Sayangnya, banyak orang di zaman ini berjalan seperti dua murid itu sebelum mata mereka terbuka. Mereka hidup di dunia yang sama, namun tidak lagi mengenali kehadiran Kristus di dalamnya. Mereka mengeruk bumi, karena melihat karya ciptaan hanya dari sudut pandang ekonomi—mana yang menguntungkan mereka. Tidak ada wajah Kristus yang mereka lihat dari alam. Baik di gunung atau laut, di kota ataupun pedesaan, alam hanya dipandang sebagai alat yang memuaskan dan menghasilkan laba. Tidak lagi disadari bahwa di balik gunung yang gagah, laut yang luas, atau tanah yang subur, ada wajah Allah yang memancarkan kasih dan kehadiran-Nya.
Yesus tidak selalu hadir dengan cara spektakuler, tetapi dalam hal-hal sederhana: dalam komunitas yang saling melayani, dalam hati yang bersyukur, dalam kasih terhadap sesama dan ciptaan. Di sanalah wajah Allah tampak nyata bagi yang mau melihat. Selamat menemukan dan melihat wajah Yesus dalam seluruh karya ciptaan, agar kita memandang dunia bukan dengan mata keserakahan, tetapi dengan tatapan kasih yang menghidupkan.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/