Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita berkumpul merayakan Paskah—hari terbesar iman Kristen, ketika Allah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati. Namun, marilah kita sejenak berhenti dari kebiasaan lama kita memaknai Paskah hanya sebagai urusan rohani, yang berhubungan dengan keselamatan pribadi manusia. Hari ini, dengan kacamata hermeneutika ekologis, kita diingatkan bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya kabar baik untuk manusia, tetapi juga untuk seluruh bumi.
- Allah yang inklusif bagi seluruh ciptaan Petrus berdiri di hadapan banyak orang dan menyatakan bahwa Allah tidak membeda-bedakan siapa pun. Semua yang takut akan Dia diterima. Ini adalah berita yang mengguncang batas etnis, sosial, bahkan agama. Tetapi mari kita lihat lebih dalam, jika Allah tidak membeda-bedakan manusia, mungkinkah Ia juga tidak membeda- bedakan ciptaan? Bukankah semua makhluk bernilai di hadapan-Nya?
Yesus, yang diurapi Roh Kudus, berkeliling sambil berbuat baik, menyembuhkan, dan memulihkan. Ia hadir bukan hanya untuk mengangkat manusia dari sakit, tetapi untuk menegakkan shalom— damai sejahtera—di mana manusia, sesama, dan alam hidup dalam keseimbangan. Paskah adalah kabar bahwa pemulihan itu tidak pernah eksklusif, melainkan kosmik. - Bumi sebagai saksi kebangkitan Injil Matius mengisahkan gempa bumi yang mengguncang saat Yesus mati dan saat Ia bangkit. Gempa itu bukan sekadar latar dramatik. Itu adalah suara bumi. Ciptaan pun bergetar, bersolidaritas dengan penderitaan dan kemenangan Kristus.
Saudara-saudari, mari kita jujur, bukankah bumi kita hari ini juga “berteriak”? Ia bersuara lewat krisis iklim, banjir bandang, kebakaran hutan, kepunahan spesies. Semua ini seolah berkata: “Ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan bumi.” Maka, Ketika kita merayakan Paskah, kita diajak mendengar kembali suara bumi. Kebangkitan Kristus adalah undangan untuk berdamai, bukan hanya dengan Allah dan sesama, tetapi juga dengan bumi yang terluka. - Mengenakan manusia baru yang ramah bumi Surat Kolose mengingatkan kita untuk menanggalkan manusia lama—gaya hidup serakah, penuh amarah, penuh kerakusan—dan mengenakan manusia baru: penuh kasih, rendah hati, lembut, sabar.
Kalau kita tarik ke dalam konteks ekologis, manusia lama itu adalah gaya hidup konsumtif, eksploitasi tanpa batas, dan ketidakpedulian pada lingkungan. Sedangkan manusia baru adalah hidup selaras dengan gambar Allah, sang Pencipta, yang sejak awal menempatkan manusia sebagai pengelola, bukan perusak alam. Paskah berarti lahirnya manusia baru yang tidak lagi memandang bumi sebagai objek untuk diperas, melainkan sebagai sahabat yang harus dijaga. Inilah etika kasih ekologis— kasih yang mengikat bukan hanya relasi kita dengan sesama manusia, tetapi juga dengan ciptaan lain. - Hidup baru sebagai ungkapan syukur ekologis Mazmur 118 menyanyikan kasih setia Allah yang kekal. “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya.” Setiap hari adalah karunia ekologis. Kita hidup karena udara masih bisa kita hirup, karena tanah masih menumbuhkan makanan, karena air masih mengalir memberi kehidupan. Tetapi apakah kita masih bersyukur dengan cara merawat, atau justru kita bersikap serakah dengan cara mengurasnya habis. Syukur ekologis berarti merayakan setiap hari bukan dengan pesta berlebih, tetapi dengan kesadaran bahwa bumi harus tetap lestari bagi generasi berikut.
Saudara-saudari,Paskah adalah kabar bahwa Allah yang bangkit di dalam Kristus menghadirkan shalom kosmik. Keadilan, rekonsiliasi, dan pemulihan berlaku bagi seluruh ciptaan. Gereja, yaitu kita semua, dipanggil bukan hanya untuk mengumandangkan “Kristus sudah bangkit” dengan mulut, tetapi juga dengan gaya hidup.
Ketika kita memilih untuk hidup lebih sederhana, ketika kita menanam pohon, ketika kita mengurangi sampah plastik, ketika kita menjaga sungai dan hutan, kita sedang berkata: “Kristus sudah bangkit—dan kami hidup sebagai manusia baru yang ramah bumi.”
Marilah di tengah sorak sorai Paskah ini, kita juga mendengar bisikan bumi yang rindu dipulihkan. Kebangkitan Kristus adalah undangan bagi kita untuk membangun kehidupan baru yang adil, penuh belas kasih dan ramah lingkungan. Amin!
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/