Artikel GKJ Kronelan

Kisah orang buta yang dipulihkan dalam Yohanes 9 : 1-41 menjadi refleksi bagi umat Kristen yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan orang buta tersebut. Orang yang buta sejak lahirnya itu bergumul dengan keadaannya. Sejak lahir, ia dan keluarganya mendapat stigma buruk oleh masyarakat. Para agamawan sibuk menunjukkan bahwa orang itu berdosa.

Mereka tidak peduli pada perasaan orang itu. Sikap para murid Yesus rupanya sama dengan orang-orang Farisi. Mereka bertanya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orang tuanya, sehingga ia lahir buta?” Yesus memberikan jawab bahwa tidak seharusnya mereka ikut-ikutan menghakimi penyandang disabilitas itu. Sebaliknya, Ia mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan pada orang itu.

Setelah Ia memberikan wejangan pada murid-murid-Nya, Ia menyatakan mukjizatnya bagi orang yang lahir buta itu. Keberadaan orang buta itu menunjukkan gambaran yang kontras dengan kebutaan orang Farisi. Pemulihan yang dilakukan Yesus menjadi ajakan bagi setiap orang supaya mau hidup dalam terang. Di dalam terang, setiap orang dapat “menyampaikan kebenaran dalam kasih”.

Hidup bukan untuk diri sendiri, namun menurut kehendak Tuhan. Umat diajak memiliki kesadaran untuk peduli dengan sesama dan sekitarnya. Dengan demikian, umat menyadari bahwa dirinya sebagai ciptaan Tuhan, sebagai gambar dan rupa Allah mau hadir untuk dan berperan serta atas keberlangsungan dunia. Seperti Tuhan sebagai gembala yang baik, maka umat Kristen juga akan hadir untuk memastikan semua ciptaan Tuhan akan dirawat dan tidak ada satu pun yang dikerjakannya tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Apakah saudara-saudari tahu apa yang sedang dihadapi di sekitar kita? Kerusakan alam, krisis sampah dan masih banyak masalah lingkungan terus di dengungkan di media sosial. Jangan diam karena merasa bukan bidangnya dan sudah ada bagian yang menangani. Kepedulian terhadap keberlangsungan alam merupakan panggilan kita. Suatu saat kita akan meninggalkan semesta ini dan meninggalkan alam. Mestinya alam ini dapat terus dihuni dan dinikmati generasi selanjutnya.

Ini adalah tanggung jawab semua umat Kristen dan semua umat manusia lainnya. Jangan menunggu menjadi seorang yang memiliki pengaruh untuk bisa melakukan perubahan. Mulailah dari titik di mana saudara-saudari tinggal. Entah itu di rumah tinggal, tempat kerja atau di mana pun berada. Tuhan membutuhkan hati yang mau ikut terlibat menjaga dan terus mengelola ciptaan-Nya.

Lakukan meskipun itu langkah- langkah sederhana tetapi lakukan dengan rutin dan serius, seperti mulailah bijak memakai atau mengonsumsi dalam sehari-hari. Ikutlah untuk peduli dan mengerjakan dalam pengolahan sampah dari yang digunakan, salah satunya juga dengan memilah sampah agar dapat membantu para petugas kebersihan. Kembangkan diri untuk bisa terlibat terhadap masalah lingkungan, hal ini bisa dilakukan tanpa harus mengganggu pekerjaan atau tugas yang sudah dimiliki.

Ada sebuah inspirasi baik dari kota Bandung. Di tengah hiruk pikuk kota Bandung, salah satu bentuk nyata kepedulian lingkungan adalah hadirnya Kampung Takakura. Metode yang menjadi andalan Kampung Takakura adalah Keranjang Takakura, sebuah teknik pengolahan sampah organik yang menggunakan keranjang khusus untuk memproses menjadi kompos berkualitas tinggi. Sistem ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, namun juga menghasilkan pupuk alami yang bermanfaat bagi pertanian dan taman.

Seperti yang diceritakan masyarakat yang berada di wilayah Kampung Takakura menunjukkan bahwa panggilan sebagai umat Kristen dan bersama sebagai ciptaan Tuhan di dunia, tidak hanya duduk menikmati berkat dan perkembangan jaman. Pergumulan tentang krisis lingkungan menjadi salah satu panggilan yang Tuhan sampaikan, tidak hanya mengeluh dan khawatir dengan situasi buruk yang mungkin terjadi. Dimulai dengan tumbuh rasa peduli, hadir bersama dan juga ikut berperan serta untuk mengerjakan secara rutin, berawal dari kepedulian akibat krisis lingkungan akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari untuk selalu peduli dan merawat lingkungan.

Mari dalam Minggu Prapaskah IV disebut Minggu Laetare, minggu sukacita karena adanya penghiburan dan pemulihan dari Tuhan, seperti orang buta yang mengalami kesembuhan dan pemulihan hidup yang mengundang umat untuk tidak lagi hidup memikirkan diri sendiri, tetapi melakukan kebenaran dan kasih yang peduli dengan sekitar dan ikut aktif dalam penanganan masalah lingkungan.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin