Artikel GKJ Kronelan

Jemaat terkasih, ada banyak janji yang bisa jadi kita ucapkan kepada Tuhan jika Tuhan memberikan ini, maka saya akan memberikan sebagian uang saya. Kalau Tuhan mengabulkan doa saya, maka saya akan memberikan hidup saya. Atau kalau Tuhan menyembuhkan saya, maka saya akan menolong mereka yang sakit juga. Apakah janji seperti itu tanda dari ketidak berimanannya kita atau justru menjadi momen atau peristiwa seorang percaya belajar untuk percaya kepada Tuhan dengan kepastian yang dia alami sendiri.

Ayub pernah mengatakan dalam deritanya, kurang lebih dalam bahasa kita, seperti ini, “Hanya kata orang aku tahu tentang Allah tapi sekarang aku mengalami Allah.” Ketidakpastian rupanya bukan hanya dialami oleh orang-orang yang sakit, atau orang-orang yang menderita. Ketidakpastian juga dialami oleh orang-orang yang tadinya percaya dan hidup saleh. Kenapa ada ketidakpastian dalam hidup orang percaya? Karena menjadi orang percaya tidak otomatis kita mendapatkan surga di dunia. Ada jalan yang perlu kita lalui dengan berbagai tantangan beriman. Kalau kita lihat dalam 4 bacaan kita, ada beberapa tantangan yang juga masih kita alami sampai hari ini.

Pengalaman Abram yang dipanggil untuk pergi ke tempat asing adalah tantangan ketidakpastian. Apakah kita juga pernah mengalami ketidakpastian karena harus pergi ke tempat asing yang belum pernah kita kunjungi? Atau seperti pengalaman Pemazmur saat menghadapi orang-orang curang. Tentu kita juga pernah menghadapi mereka yang tidak jujur, tidak jelas dalam rencana, tidak mau tahu dan tidak peduli pada orang lain. Ketidakpastian seperti itu juga dialami oleh Pemazmur ribuan tahun yang lalu. Lalu dalam bacaan kita di kitab Roma, rupanya orang Yahudi dan non-Yahudi yang memutuskan untuk ikut Yesus juga mengalami ketidakpastian dalam imannya.

Ada ajaran tradisi dan ajaran Yahudi yang terasa tidak sejalan dengan mereka. Mereka bingung: mau pilih ajaran yang mana saat itu? Dalam bacaan Injil kita berjumpa dengan Nikodemus yang sedang bimbang. Sebagai pemimpin Agama seharusnya dia hidup dalam kepastian. Namun dia juga masih bingung sehingga ia menyempatkan diri di tengah malam untuk berdiskusi bahkan bertanya kepada Yesus. Ini tentu bukan hal biasa bagi para guru atau pemuka agama di sana. Bertanya pada Rabi atau Guru lain berarti mengakui bahwa kemampuannya di bawah Guru tersebut.

Tampaknya Nikodemus hidup dalam kepastian, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah, sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Namun apa jawab Yesus? Seakan Yesus memperbaiki kepastian versi Nikodemus dengan jawaban, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.”

Saudara, pernahkah kita mengalami kepastian namun akhirnya kita menjadi tidak pasti dalam perjalanan ke depannya? Bagaimana “berjalan bersama Tuhan dalam kepastian?” Melalui 4 bacaan di atas kita dapat simpulkan 3 hal:

Pertama, “Kamu perlu dilahirkan kembali”. Itulah yang Yesus katakan kepada Nikodemus. Kelahiran kembali bukan dalam arti masuk kembali secara fisik ke dalam rahim ibu kita. Tetapi kelahiran dari Roh di mana kita percaya bahwa hidup kita sepenuhnya ada dalam pimpinan Tuhan. Tuhan yang memimpin hidup kita.

Kedua, Lakukan Lompatan iman. “Lompatan iman” adalah konsep sentral dalam pemikiran filsuf Denmark, Søren Kierkegaard. Konsep ini menggambarkan sebuah keputusan radikal bagaimana kita sebagai orang percaya mempercayai Tuhan atau konsep awalnya adalah “sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri”. Orang yang melakukan lompatan iman akan dapat menceritakan pengalamannya sebagai pengalaman iman.

Ketiga, Pegang janji Tuhan. Janji Tuhan sering kali kita baca tapi kita tinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah lagu Sekolah Minggu “Baca kitab suci, doa tiap hari” yang mengajak kita membaca firman Tuhan setiap hari supaya kita bisa bertumbuh dalam pengalaman iman. Pengalaman iman berarti kita mengetahui firman Tuhan dalam bentuk janji, pengharapan, pesan, lalu kita mengimaninya saat mengalami kesulitan atau pencobaan. Apa akibatnya saat seseorang mengalami pengalaman iman? Ia bukan hanya mengalami tanda-tanda ajaib dari Tuhan melainkan juga bisa menceritakan pengalaman ajaibnya itu kepada sesama. Tuhan Memberkati. Amin

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin