Artikel GKJ Kronelan

Jemaat terkasih, Minggu V Prapaskah ini, gereja sedang menghayati masa sengsara dengan mawas diri, laku puasa, berdoa, berderma, pemulihan relasi manusia, dan jangan ditinggalkan pemulihan relasi dengan alam. Kita bersama menghayati karya Tuhan Yesus yang rela menderita, menuju kematian, menyerahkan nyawa-Nya demi kehidupan.

Sesuai tema masa paskah tahun ini yang bertajuk Paskah Ekologis, kita diajak peka dan tanggap akan adanya proses menuju kematian alam. Alam yang rusak tak bisa dibiarkan. Saat ini alam dijadikan sebagai obyek yang dieksploitasi untuk kepentingan dan keserakahan manusia sehingga laju kerusakan alam pada tahap sangat mengkhawatirkan.

Bacaan ekumenis hari ini diambil dari Injil Yohanes 11:1-45 yang didahului dengan Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, dan Roma 8:6-11. Kita diajak menghayati kisah-kisah yang berisi tentang spirit perubahan dan perkembangan kehidupan menuju ke arah yang baik: rusak menjadi pulih, pesimis menuju optimis, putus asa menjadi berpengharapan, dan kematian menuju kehidupan.

Semua hal tersebut bersumber dari kasih karunia Allah. Khususnya, bacaan-bacaan ini mengajak kita untuk menyegarkan spirit perubahan dari arah kematian alam menuju kehidupan, sekaligus mengasah kepekaan kita akan tanggung jawab sebagai pelaku penyebab kematian alam itu menjadi pro kehidupan. Mawas diri. Nabi Yehezkiel mengajak umat untuk melihat semua penderitaan itu bukan dengan keluhan dan keputusasaan.

Tulang-tulang kering dan berserakan itu akan dibangkitkan Allah maka Yehezkiel menyerukan kepada Israel untuk berani berbalik, bangkit dan menata hari baru yang penuh pengharapan. Tanggapan yang digambarkan sang Pemazmur meneladankan penantian pengampunan Tuhan dengan menantikan janji-Nya. Sikap hati yang menanti-nantikan Tuhan dengan sungguh-sungguh seperti pengawal jaga malam yang menanti-nantikan waktu pagi.

Tak jauh berbeda juga disampaikan Rasul Paulus yang memberi peringatan kepada jemaat untuk beralih dari kehidupan dalam daging yang tidak diperkenan Allah dan membawa kepada kematian kepada suatu kehidupan yang berbeda yakni hidup dalam Roh. Mawas diri adalah melihat diri. Memelototi diri sendiri bukan memelototi kehidupan orang lain.

Dalam kaitannya dengan kerusakan alam, bukanlah hidup kita sendiri perlu kita pelototi lagi. Bukankah banyak sisi hidup ini dikendalikan keinginan daging yang menyebabkan kontribusi kerusakan alam semakin besar? Berbelarasa dan bertindak Kisah Lazarus dibangkitkan merupakan kisah yang menunjukkan Tuhan yang berkuasa atas kehidupan melampaui batas kematian. Dalam kisah Yesus membangkitkan Lazarus ini, Tuhan mengajarkan belarasa. Ia digerakkan oleh belas kasihan yang tulus.

Sesudah Yesus mengajarkan berbelarasa, Yesus kemudian mengajarkan bertindak nyata. Sesudah Yesus berdoa, Ia berseru, “Lazarus, marilah keluar!” (ay.43). Lazarus yang sudah mati itu bangkit dan berjalan keluar dari kubur. Bagaimana dengan spirit kita dalam berbela rasa dan bertindak untuk perubahan dari arah kematian alam menuju kehidupan?

Contoh praktik, ada sebuah komunitas yang “menghidupkan” sumber mata air di Gunungkidul bernama Komunitas Resan Gunungkidul. Komunitas Resan Gunungkidul adalah sebuah gerakan swadaya yang fokus pada konservasi sumber daya air berbasis masyarakat di Gunungkidul, Yogyakarta. Komunitas ini mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan komunitas dan membantu menyebarkan kesadaran tentang pentingnya konservasi lingkungan.

Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan, ada dinamika, perubahan, dan perkembangannya. Umumnya dinamika yang kita harapkan dalam perjalanan kehidupan adalah perubahan dan perkembangan menuju ke arah yang lebih baik, pesimis menuju optimis, putus asa menjadi pengharapan, dan kematian menuju kehidupan. “Hari esok harus lebih baik!” Kita semestinya menjadi pelaku yang membawa iklim kehidupan bukan kematian.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin