Artikel GKJ Kronelan

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Saudara tentu tidak asing dengan pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Ungkapan ini sering disampaikan oleh seseorang yang baru pertama kali berbicara di hadapan orang banyak yang baru ditemuinya. Ia akan menyebutkan nama dan mungkin identitasnya secara umum. Setelah itu, mungkin suasana pertemuan menjadi cair.

Namun, hal tersebut tidak menjamin serta merta sang pembicara maupun para pendengarnya mengenal lebih dalam tentang yang bersangkutan. Untuk mengenal lebih dalam, diperlukan waktu yang tidak singkat, intensitas pertemuan yang sering, atau mungkin informasi-informasi pendukung lainnya.

Setidaknya, setelah memiliki sedikit pengenalan itu, timbul rasa hormat dan ketertarikan, ingin tahu lebih banyak tentang yang bersangkutan. Tetapi, pengenalan itu harus dimulai dari kerendahan hati untuk mempercayai dan mencari tahu tentang pribadi masing-masing. Tanpa hal tersebut, rasanya sulit untuk mengenal lebih dekat dan terjalin relasi yang lebih akrab.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, komunitas penerima Injil Yohanes adalah generasi yang tidak memiliki pengalaman hidup bersama dengan Yesus ketika Ia melayani di muka bumi ini. Karena itu, mereka merasa belum mengenal “siapa Yesus”. Yohanes Pembaptis bersaksi tentang ini. Ia mengatakan bahwa sebelumnya, ia juga belum mengenal Yesus. Tetapi, Allah melalui Roh Kudus membuatnya mengenal dan percaya siapa Yesus. Sekalipun, ia belum mengenal benar, tetapi ia memberi diri untuk dipimpin oleh Allah memperoleh pengenalan itu. Itulah sebabnya, ia menerima panggilan Allah untuk menjadi utusan- Nya.

Untuk menjadi murid Yesus, diperlukan kesediaan diri untuk menyambut panggilan-Nya. Andreas dan “murid yang dikasihi” mengikuti Yesus setelah Yohanes memberitahu mereka bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Mereka mau percaya apa yang dikatakan Yohanes, guru mereka, sekalipun mereka belum percaya sepenuhnya. Namun, mereka memiliki benih benih iman yang mereka pupuk sehingga bertunas dan bertumbuh, bahkan berbuah. Mereka, mengikuti Yesus (menjadi murid-Nya) untuk mencari tahu pribadi Yesus lebih mendalam dan intim.

Demikian pula dengan Simon. Ia memberi diri untuk mengikut Yesus, karena ia bersedia untuk percaya pada apa yang dikatakan oleh Andreas, saudaranya bahwa Yesus adalah Mesias. Umat yang dikasihi Tuhan, mengenal dan mengikut Yesus adalah sebuah proses perjalanan yang tidak berujung. Dalam perjalanan itu diperlukan kesediaan untuk “datang”, “melihat”, dan “mengalami” sendiri. Perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah. Karena itulah, diperlukan kerelaan untuk menghadapi “resiko” perjalanan dalam mengenal dan mengikut Yesus. Hal ini perlu disadari sejak awal. Sebagaimana yang dapat kita baca dalam Nyanyian Hamba Tuhan di dalam Kitab Yesaya 49:1 7.

Hamba Tuhan dalam syair ini menggambarkan keteguhannya menyediakan diri untuk diutus oleh Allah. Namun, ia juga menyadari kelemahannya dalam perjalanan perutusan itu. Ketika hal itu terjadi, ia “datang” kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan hati untuk mengalami hidup bersama Tuhan sebagaimana disaksikan oleh Pemazmur (Maz. 40:1-11).

Paulus juga meminta jemaat Korintus untuk membuka hati mereka agar percaya pada pemberitaannya. Untuk itu, ia menyebut Sostenes, Kepala Rumah Ibadat yang sangat dikenal oleh orang-orang Korintus untuk memberi peneguhan atas dirinya (1 Kor. 1:1). Memang, tanpa kerendahan dan keterbukaan hati, rasanya akan sulit untuk mengenal dan mengikut Yesus. Perlu kita ingat, pengenalan kita tentang Yesus sesungguhnya bukan soal seberapa banyak yang kita tahu tentang Yesus. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar kesediaan diri kita untuk berproses, berjalan bersama Yesus, mengalami hidup bersama Yesus dalam keseharian kita.

Pengenalan akan Yesus bukan hanya tentang pengetahuan Alkitab atau pemahaman teologi, tetapi pengenalan akan Yesus adalah merasakan dan mengalami Yesus sebagai Juru Selamat kita secara pribadi. Karena itu, tidak ada pengenalan akan Yesus yang bersifat final. Pengenalan akan Yesus berlangsung terus menerus hingga akhir hayat kita. Menjadi murid Yesus adalah ketika kita memberi diri untuk terus mengenal Yesus dan mempraktikkan pengenalan kita itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 5 =