Di tengah gerak dunia yang serba terburu-buru ini, kita kerap mendengar bahwa keberhasilan hidup terjadi ketika kita dapat memburu serta menggenggam sebanyak mungkin. Harta, kuasa, jabatan pula pengaruh, diperebutkan dan dipertontonkan sebagai etalase kesuksesan dan pencapaian. Keserakahan tanpa batas menjadi pertunjukan. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan. Apalagi ketika kita mengingat apa sebenarnya tujuan mula Adam dan Hawa sebagai manusia pertama dicipta.
Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai pengelola yang bertugas memelihara dan mengusahakan taman. Panggilan ini bersifat ekologis dan etis, yaitu hidup dalam keteraturan dan keselarasan dengan ciptaan. Namun atas sikap mencukupkan diri ini, manusia tak mampu bertahan dalam ujian dan jatuh dalam dosa. Mereka enggan berlaku taat dan setia. Manusia ingin memiliki segalanya hanya bagi dirinya sendiri. Melampaui batas ciptaan dan tergoda menjadi seperti Allah.
Menghadapi godaan nafsu keserakahan, kita diajak belajar dari teladan Tuhan Yesus. Menarik untuk mencermati bahwa karya pertama Yesus setelah pembaptisan dan pengutusan-Nya adalah menyoal tiga hal yang sangat sesehari sekaligus yang jika dirangkum, menjadi hal yang paling kerap membuat manusia terjatuh ke dalam dosa, yakni keserakahan. Pada pencobaan pertama, iblis menyerang kebutuhan manusia paling dasar, yakni rasa lapar atas makanan. Godaan ini bukan semata soal perut, melainkan tentang siapa yang berkuasa dan memelihara hidup. Yesus mengajarkan cara melawan keserakahan dengan spiritualitas kebergantungan hanya kepada Allah Sang Pemberi Kehidupan.
Dengan mengutip Mazmur 91:11-12, iblis menggoda Yesus untuk mengetes kasih Allah atas diri-Nya. Jika sungguh Ia dikasihi Allah, maka apa saja yang dilakukan-Nya, bahkan menjatuhkan diri dari atap Bait Allah sekalipun, pasti Allah akan menjaga-Nya. Iblis menggoda Tuhan Yesus untuk memamerkan kuasa-Nya. Godaan untuk menjadi serakah dan memiliki segalanya menjadi puncak dari pencobaan yang dialami Yesus.
Menjadi pribadi yang paling berkuasa dan memiliki segalanya ditawarkan kepada Yesus. Syaratnya pun tidak banyak, namun hanya satu saja, “jika Engkau sujud menyembahku.” Jalan pintas memiliki semuanya, tanpa salib dan derita, ditawarkan oleh iblis. Yesus meruntuhkan serakah melalui kemelekatan hanya bagi Allah. Yesus mengajarkan, iman sejati lahir dari kemelekatan pada Bapa. Firman Tuhan hari ini mengajar dan mengajak kita untuk mewaspadai gaya hidup rakus dan menghadirkan laku hidup sahaja, sewajarnya, sederhana. Dalam praktik sederhana, masa Prapaskah dapat kita isi dengan melakukan puasa atau pantang sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari kerakusan.
Hidup sahaja juga dapat ditempuh dengan mengurangi konsumsi yang sifatnya impulsif. Tidak membeli barang hanya karena diskon padahal tidak dibutuhkan. Di tengah gempuran budaya pamer yang menjamur di sosial media kita, mari belajar menghadirkan gaya hidup sahaja dengan tidak tergoda memamerkan kebaikan, pencapaian, dan kasih kita. Menyapa, mengunjungi, menolong, tanpa berharap pengakuan. Jika saat ini kita sedang dipercaya Tuhan untuk memimpin atau berwenang atas sesuatu hal, belajarlah memberdayakan, bukan memperdayakan. Biasakanlah mendengarkan masukan dengan gembira, bukan anti kritik dan menolak saran.
Hadirkan kepemimpinan yang berempati, bukan dengan menakut-nakuti. Di tengah gempuran keserakahan, kita dipanggil untuk berani mencukupkan diri dengan berkat Tuhan. Di tengah dunia yang sibuk mencari pengakuan, kita dipanggil untuk mengasihi dan melayani tanpa memamerkan diri. Sebab kita tahu, semua yang baik kita persembahkan hanya bagi Tuhan. Di tengah dunia yang dijejali arogansi, jadilah pribadi rendah hati dan menyahabati. Amin.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/