Kelahiran merupakan salah satu berita menggembirakan di tengah keluarga. Tak hanya itu, kelahiran juga membawa adanya perubahan bagi keluarga tersebut. Sepasang suami-isteri berubah dan bertambah tanggung jawabnya sebagai orang tua; anak pertama jadi memiliki “teman” sekaligus kakak. Bahkan dengan hadirnya “anggota baru” ini seringkali dirayakan oleh keluarga, sahabat, bahkan kerabat.
Biasanya, mereka akan tilik (menjenguk) sekaligus nyumbang (memberikan sumbangan) atau memberikan kado untuk sang bayi. Ternyata kelahiran Yesus pun membawa perubahan tidak hanya bagi Maria dan Yusuf, namun juga bagi kita. Kelahiran Sang Juruselamat membawa kehidupan baru untuk kita. Juruselamat yang datang itu lahir ke dunia dan menjadi manusia. Ia hadir untuk menyatakan kemuliaan Bapa dan memulihkan relasi manusia dengan Allah. Maka saat ini kita pun turut serta untuk “nyumbang” atas kelahiran Yesus.
Lantas, apa yang akan kita berikan sebagai wujud rasa syukur dan kebahagiaan kita? Melalui bacaan leksionari ini kita dapat melihat bahwa karya penciptaan dan penebusan Allah merupakan satu kesatuan yang utuh. Kedua hal tersebut adalah bagian dari rencana Allah yang utuh melalui Yesus dalam kuasa Roh Kudus. Sebagai anak- anak Allah pun kita diundang untuk turut serta mengambil bagian di dalam-Nya.
Yohanes memberitahukan pada kita bahwa Allah yang disebut “Firman” itu merupakan pencipta dan sumber segala kehidupan. Sayangnya, para ciptaan-Nya begitu jauh dari Sang Pencipta, sehingga tidak mengenal-Nya. Maka Allah hadir untuk memulihkan manusia. Pemulihan ini bukan semata-mata karena keinginan kita (manusia) sendiri, tetapi karena cinta kasih Allah dan anugerah-Nya yang dicurahkan untuk kita. Bahkan Ia hadir ke dunia dan mengambil rupa manusia supaya kita dapat “mengalami” Allah dalam wujud yang dapat dilihat dan dipahami. Allah merengkuh setiap umat melalui tindakan nyata yang telah dilakukan-Nya.
Dalam Yeremia 31 : 7 – 14, Ia menunjukkan kasih-Nya melalui keberadaan sisa-sisa Israel yang lebur oleh pembuangan dan penjajahan dipersatukan kembali. Mereka dipulihkan dari keadaan penuh ratapan menjadi sorak sorai; dari kekurangan dan kesakitan diubah menjadi sukacita dan sejahtera. Pemazmur pun menuliskan karya penyelamatan Allah, di mana Allah yang akan menjadi pelindung, penyembuh, dan pemulih bagi umat-Nya. Karya Allah yang tergenapi dalam diri Yesus Kristus pun dinyatakan oleh Paulus kepada jemaatnya di Efesus.
Dalam suratnya, ia menuliskan bahwa manusia memperoleh penebusan dan pengampunan melalui darah-Nya yang kudus. Allah pun menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus dan Ia membawa semua yang ada untuk kembali kepada Kristus untuk dipersatukan. Allah hadir sedemikian rupa untuk memulihkan relasi manusia yang rusak akibat dosa. Ia hadir dan lahir sebagai bayi mungil yang berdampak besar pada manusia.
Kelahiran-Nya membawa kita pada kehidupan yang baru. Kita telah diselamatkan dan dipulihkan sebagai ciptaan yang baru. Sama seperti ketika kita menyambut kelahiran saudara-saudara kita, kita pun menyambut kehadiran-Nya dengan “tilik” dan “nyumbang”. Pertama, tilik berarti kita mau hadir – datang kepada-Nya. Kita belajar untuk dapat mengenal pribadi-Nya. bukan hanya sekadar tahu dan kenal, tetapi kita juga dapat merasakan persekutuan kasih dengan Sang Bayi Ilahi. Jika kita sudah tilik, selanjutnya kita akan nyumbang. Hal ini bukan berarti kita memberikan sumbangan berupa materi, namun kita mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang hidup.
Kita dapat mempersembahkan diri kita karena Allah telah terlebih dulu memberikan kasih karunia kepada kita (Yoh.1 : 16). Kasih karunia-Nya membawa kita pada hidup baru yang memampukan kita untuk dapat melayani sesama melalui talenta yang kita miliki. Kelahiran Yesus membawa kita pada kehidupan yang baru : (1) Kelahiran-Nya menghidupkan harapan bagi jiwa yang gelap. (2) Kelahiran-Nya menghidupkan pemeliharaan dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. (3). Kelahiran-Nya menghidupkan identitas dan tujuan kita sebagai anak-anak pilihan-Nya. (4) Kelahiran-Nya menghidupkan terang dan kehidupan kekal bagi setiap kita yang percaya
Mari, kita hidupi kelahiran Kristus bukan hanya sebagai ritual tahunan semata, namun kita juga diajak merendahkan hati kita untuk dapat “tilik” dan “nyumbang” sebagai perjumpaan pribadi dengan Sang Hidup. Sebagai manusia yang telah lahir baru, hiduplah sebagai orang- orang yang penuh terang, kasih, dan harapan. Amin.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/