Saudari-saudara, narasi Injil Matius 1 : 18–25 menceritakan kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf. Kala itu, Yusuf dan Maria telah bertunangan, yang secara hukum sudah mengikat layaknya suami- istri, namun belum tinggal bersama. Di tengah persiapan pernikahan, Yusuf dihadapkan pada kenyataan yang mengejutkan Maria mengandung. Ini tentu menjadi dilema yang amat berat. Dalam tradisi agama Yahudi, hal ini dapat dianggap sebagai kasus perzinahan, yang bisa berujung pada hukuman rajam.
Dalam kebingungannya, Yusuf memilih jalan tengah: membatalkan pertunangan itu secara diam- diam agar tidak mencemarkan nama Maria. Tetapi justru di titik krisis inilah, Allah hadir. Melalui mimpi, malaikat Allah menyampaikan pesan: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Mat. 1:20) Satu kalimat ini membalikkan seluruh pergumulan Yusuf. Apa yang tampak sebagai krisis besar, ternyata adalah bagian dari rencana keselamatan Allah. Dan Yusuf merespons dengan ketaatan secara penuh.
Berbeda dengan Yusuf, kita melihat sikap Raja Ahas dalam bacaan dari Yesaya 7:10–16. Saat menghadapi krisis politik dan militer karena ancaman dari Rezin dan Pekah, Ahas menolak tawaran Allah untuk memberikan tanda sebagai jaminan pertolongan. Ahas berkata, “Aku tidak mau memintanya, aku tidak mau mencobai TUHAN” (Yes. 7:12). Sekilas terdengar saleh, namun sebenarnya itu adalah alasan untuk menolak pertolongan Allah.
Saudari-saudara, di titik krisis, pilihan kita sangat menentukan arah hidup kita. Kita bisa seperti Ahas yang mengandalkan diri sendiri dan manusia lain, atau seperti Yusuf yang berserah pada rencana Allah meski tak semuanya dapat dimengerti.
Mazmur 80 menyuarakan jeritan umat Allah dalam penderitaan. Mereka memanggil Allah sebagai Gembala, namun seolah Gembala itu diam. Mazmur ini memperlihatkan bahwa harapan umat Allah tetap hidup, meskipun tidak segera mendapat jawaban. Harapan itu bukan bersandar pada keadaan, tetapi pada Allah yang berkenan menyinarkan wajahNya.
Hidup ini penuh teka-teki, namun siapa yang menjadi sandaran kehidupan kita yang penuh teka-teki itu? Ahas telah memilih bersandar pada kekuatan dirinya sendiri dan manusia lain. Tapi Minggu Adven IV ini kita diingatkan kembali bahwa pengharapan sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus. Seperti Yusuf, yang tetap taat meski tak sepenuhnya mengerti karya Allah. Seperti Pemazmur, yang tetap berseru di tengah penderitaan. Dan seperti Paulus, yang memberikan seluruh hidupnya untuk mewartakan Injil. Mari kita belajar mengimani: “Hanya Kristus harapanku” di suka dan duka, sehat maupun sakit, dalam kelimpahan maupun kekurangan, Kristus sesungguhnya adalah harapan yang tidak mengecewakan. Dia yang melampaui kita, kini hadir menyertai dan menolong kita dengan cara-Nya yang tak terselami. Ya dan Amin.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/