Artikel GKJ Kronelan

Jemaat terkasih, jika kita mencermati bacaan Injil kali ini, kita bisa melihat salah satu akar misi gereja dan seluruh orang beriman adalah gerakan Yesus yang menebar pengharapan. Dalam bacaan Injil kali ini, kita bisa melacak bagaimana ciri dari misi yang dilakukan Yesus itu hendaknya menjadi inspirasi dan mendorong serta meneguhkan usaha gereja untuk memperjuangkan tugas-panggilannya hingga hari ini.

Sebagaimana kita bisa cermati, dalam kisah-kisah Injil pelayanan Yesus bermula di wilayah Galilea, yang sekaligus menjadi gambaran dari situasi konkret dari konteks sosial-kehidupan masyarakat pinggiran dengan persoalan yang kompleks. Oleh sebab itu, jika Yesus datang di sana dan mengajar melalui pesan “berbahagialah”, tampaknya ada makna yang hendak diungkap secara khusus.

Seperti halnya ungkapan yang pertama, “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (ay. 3). Tentu bisa saja, para pendengar dari pengajaran Yesus itu memang miskin dan sulit hidupnya. Dan berbicara mengenai pesan bahagia kepada rakyat yang merasakan dan mengalami betul kemiskinan itu bukanlah perkara mudah.

Jemaat yang terkasih, Nabi Mikha dalam bacaan pertama tadi juga turut mengingatkan, supaya jangan sampai umat keliru memahami kehendak Allah. Menurutnya, tuntutan Allah adalah untuk “berlaku adil”, “setia” dan “rendah hati” (Mikha 8: 8). Teguran dan kritik nabi Mikha itu berlatarkan kondisi umat yang rentan jatuh, bertentangan dari kehendak Allah. Maka, untuk memahami datangnya Kerajaan Sorga, mensyaratkan kesadaran bahwa Allah sendiri dapat menyatakan karya kasihnya dengan berbagai cara yang dikehendaki-Nya. Dan kita yang turut untuk terlibat haruslah mengacu pada tujuan-tujuan Allah dalam tindakan atau perilaku yang benar.

Jika menyimak jalan karya Yesus, Ia memilih Galilea sebagai tepat yang pertama dikunjunginya, menebar pengakaran serta melakukan karya. Justru Yerusalem, menjadi tempat terakhir, dimana nantinya Ia, seperti nabi terdahulu menyongsong penderitaan dan kematian. Kini, jika hendak memilih bagian kita, manakah yang akan kita tuju untuk terlibat? Sekali lagi, Galilea atau Yerusalem? Tentu keduanya penting, dan masing- masing tempat memiliki makna panggilan yang khas.

Namun kali ini, kita diajarkan bagaimana karya penyelamatan itu dimulai, yakni dari Galilea di mana masalah riil dari kehidupan itu mengemuka. Mereka yang miskin, menderita dan tertindas, dirasa perlu menjadi yang pertama menerima kabar bahagia. Bagi kita yang mengalami langsung kondisi- kondisi krisis semacam itu, kali ini ada pesan bagi kita bergema begitu kuat; “berbahagialah!”, sebab karya Allah itu hadir bagi kita. Dan sebagai bagian dari gereja, komunitas yang dilibatkan untuk mengemban misi, kita pun diingatkan bahwa ada konteks krisis semacam “Galilea” yang harus direspon supaya kabar bahagia itu diterima bagi kehidupan kita di masa kini. Maka gereja tidak boleh abai dan menutup diri untuk merawat iman akan pengarapan, untuk terlibat mewartakan kabar bahagia sekalipun dalam krisis dan penderitaan.

Jemaat yang terkasih, sebagian besar dari gereja-gereja di Sinode GKJ memiliki kaitan erat dengan strategi pola pelayanan kolaboratif, dari sisi liturgis-gerejawi dan pelayanan sosial. Mewartakan Kabar baik penyelamatan Allah selalu berbarengan dengan menebar pengharapan akan karya pemulihan yang nyata pula. Baik bila kita menjadi semakin mengenali ciri dari pelayanan gerejawi yang berbasis misi itu adalah bagian dari hidup komunitas kita. Kiranya kita semua dapat diinspirasi untuk menjadi bagian dari komunitas iman yang tak lelah untuk terus mewartakan kabar kebahagiaan, “datangnya Kerajaan Sorga” yang membawa pengharapan di segala keadaan. Amin.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 4 =