Artikel GKJ Kronelan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diperhadapkan dengan situasi bahwa dalam keadaan tertentu – yang menyenangkan – kita enggan untuk “segera sadar”. Keinginan hati akan selalu memaksa kita untuk menikmati kesenangan terus. Tanpa kita sadari, hidup itu akan terus berjalan dan tentu berubah sesuai dengan dinamika yang harus dijalani. Kesadaran bahwa dinamika kehidupan harus silih- berganti, hal itu penting untuk selalu kita sadari.

Hal ini terjadi pada umat Israel, semasa kepemimpinan Musa dan Harun (serta Hur). Mereka yang sudah sangat terbiasa hidup enak – meski di dalam perjalanan jauh dan membosankan – harus dipaksa sadar bahwa hidup ternyata punya dinamika yang bervariasi dan ditata sesuai dengan ketetapan Allah. Umat yang telah terlanjur menjadi tegar- tengkuk, dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan ketetapan ketetapan perjalanan pembebasan – yang diinisiasi oleh Allah sendiri. Dalam hal ini, jelas menjadikan langkah-juang keseharian mereka cukup tersendat.

Umat Tuhan yang terkasih, Mari kita bercermin dalam realita kehidupan masa kini. Masing masing dari kita, tentu sadar akan dinamika kehidupan yang sedang dijalani. Kadang menyenangkan, atau bahkan mungkin lebih sering menyusahkan. Dalam keadaan yang demikian, kita diingatkan bahwa semuanya tentu akan berubah. Sadarilah, bahwa segala sesuatu itu pasti akan berubah. Maka diperlukan komitmen untuk melewati itu semua. Dengan komitmen, kita akan terus dikuatkan melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini.

Jangan mempunyai keengganan untuk berubah, namun justru punyailah komitmen untuk selalu berubah. Tentu menuju keadaan yang lebih baik, apalagi yang itu merupakan Kehendak Tuhan. Bahwa dalam setiap perubahan, pasti akan melalui proses baik yang menyenangkan, atau tidak menyenangkan.

Jemaat terkasih tentunya kita tahu istilah metamorfosis (perubahan bentuk), biasanya terjadi pada hewan. Kita ambil contoh misalnya kupu-kupu. Jika kupu-kupu itu mempunyai akal-budi layaknya manusia, mungkin mereka akan berpikir bahwa lebih enak menjadi telur atau kepompong saja, tidak harus bersusah-payah “mempertahankan diri”. Mati, ya mati; hidup, ya hidup. Ya, karena dalam fase tersebut, mereka belum mampu mempertahankan diri. Namun “ketetapan” kehidupan mereka, mereka harus terus berkembang menjadi dewasa.

Manusia yang dilengkapi dengan akal-budi, tentu tidak berkenan disamakan dengan hewan, apalagi hanya kupu-kupu. Jika hewan hanya hidup dengan “ketetapan” peri kehewanan, maka manusia harus punya komitmen. Jelas, komitmen untuk berubah! Manusia harus semakin sadar dan berkomitmen, bahwa dinamika kehidupan harus berubah menuju manusia (umat) yang lebih baik dan berkenan di hadapan Allah.

Hari ini kita diingatkan melalui peristiwa transfigurasi Yesus, yang disaksikan langsung oleh murid-murid yang sangat dekat dengan-Nya. Setidaknya melalui keinginan Petrus yang ingin membangun kemah, kita diingatkan bahwa perjalanan kehidupan tidak mungkin berhenti pada kebahagiaan semata. Hidup ini juga harus dilengkapi dengan kesusahan dan perjuangan. Begitu, kita pun akhirnya juga disadarkan bahwa hidup itu penuh dengan dinamika. Hari ini begini, besok tentu berbeda dengan hari ini. Maka teruslah mempunyai komitmen untuk selalu berubah. Amin.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × one =