Jemaat yang terkasih, pasti kita pernah mengalami rasa takut, ketakutan yang tidak terkelola dengan baik akan membuat hidup terganggu. Apakah hidup harus dikuasai ketakutan terus menerus? Kesadaran tersebut membuat kita harus mengambil keputusan dan menentukan sikap supaya ketakutan itu tidak terus membayangi kehidupan dan ada jalan keluarnya.
Kitab Injil Matius 2 : 22, mengisahkan Yusuf yang merasakan situasi menegangkan karena rasa takut yang hebat. Ketika ia mengetahui Arkhelaus menggantikan Herodes, bayangan masa lalu yang begitu mencekam kembali hadir di pikirannya. Peristiwa pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah yang dilakukan atas perintah Herodes rupanya menjadi pengalaman traumatis tersendiri.
Menarik untuk kita ketahui bahwa ketakutan tersebut bukanlah akhir kisah hidup Yusuf. Ketakutan yang dirasakan justru mendorong Yusuf untuk membuka diri dan mencari kehendak Tuhan. Nyata bahwa dalam situasi ketakutan, Yusuf tidak mengambil keputusan dengan sembarangan, melainkan dengan tekun menanti petunjuk Tuhan. Tuhan berkenan memakai ketakutan tersebut untuk memandu langkah hidup Yusuf tahap demi tahap.
Demikianlah melalui mimpi yang diterimanya, Yusuf beranjak dari Israel menuju daerah Galilea, tepatnya di kota Nazareth. Hal ini terjadi supaya genaplah nubuat para Nabi, bahwa Tuhan Yesus disebut “Orang Nazareth”. Atas perkenan Tuhan, ketakutan Yusuf menjadi salah satu sarana terwujudnya rencana Tuhan yang mulia. Jemaat terkasih, Setiap manusia memang tidak bebas dari godaan dosa, tekanan hidup, pergumulan batin, maupun penderitaan karena ketakutan.
Namun semua beban hidup itu harus kita pandang sebagai suasana yang mendorong kita untuk lebih dekat kepada Allah dan mengerti kehendak-Nya. Kitab Ibrani 2 : 10-18 menuturkan bahwa hadirnya Kristus di antara manusia menjadi cara Allah untuk mendampingi umatNya agar berani menjalani hidup
Di tengah manusia yang kerap mengalami cobaan, Yesus menolong manusia mengatasi rasa takut karena cobaan. Ibrani 2:18 menyatakan: “Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”. Kata dicobai pada bacaan Ibrani 2:18 bisa dipahami sebagai ujian untuk membentuk dan menyempurnakan iman.
Dalam hal ini, ketakutan yang dialami manusia sesungguhnya bisa dipahami sebagai suasana batin yang justru menolong manusia untuk semakin mempercayakan diri kepada Allah dan mengerti serta melakukan kehendak-Nya. Semua ini terjadi karena Allah sendiri yang bertindak memberi pertolongan. Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pemaknaan pada ketakutan dengan dasar firman Allah membuat manusia mengalami terwujudnya rencana Allah bagi kehidupan umat-Nya.
Yesaya 63 : 7-9 mengingatkan kita bahwa ketika manusia dalam kondisi kesesakan, Tuhan memberi pertolongan. Siapa yang datang menolong? Penolong itu adalah Tuhan sendiri. Ia turun tangan supaya ada pertolongan nyata bagi umat-Nya. Kelahiran Kristus yang kita rayakan pada hari Natal menjadi bukti dan penggenapan akan kasih Allah ini. Allah sendiri yang hadir untuk melawat manusia melalui kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan betapa Allah memandang manusia berharga, sehingga Dia sendiri yang melaksanakan pertolongan tersebut.
Pertolongan Tuhan yang nyata ini menolong umat memahami bahwa penderitaan, termasuk di dalamnya ketakutan, justru akan membuat mereka semakin merasakan campur tangan Tuhan sehingga mereka harus selalu hidup dalam pengharapan. Pada akhirnya, semua pertolongan Allah yang kita alami bermuara pada pujian kepada- Nya. Pemazmur memberikan pemahaman pada kita bahwa bagian akhir dari seluruh pergumulan hidup adalah seru puji kita kepada Allah. Ia berkarya dengan sempurna atas kehidupan umat-Nya dan atas jagat raya ini.
Karenanya seluruh jagat raya seisinya menjadi orkestrasi pujian syukur atas perbuatan Allah yang besar bagi dunia. Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan mengingatkan bahwa ketakutan yang dimaknai dengan terang sabda Allah membuat kita semakin mengalami perjumpaan dengan Allah. Dengan ketekunan hidup dalam sabda Allah, arah hidup kita akan selaras dengan kehendak-Nya, sehingga hidup kita terarah pada damai Sejahtera Allah. Karena itu kita diajak untuk merespons ketakutan sebagai sarana lebih mendekat kepada Allah dan merasakan dekapan-Nya yang penuh kehangatan. Amin.
Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/