Artikel GKJ Kronelan

Saudara yang terkasih, Leith Anderson dalam bukunya Dying for Change mengatakan bahwa penghambat kemajuan gereja bersumber dari dua hal, yang bersifat institusional dan personal. Salah satu penghambat yang bersifat institusional adalah ketika gereja lebih mementingkan sistem dan aturan ketimbang tujuan atau panggilan utama gereja untuk mewartakan kasih. Sayangnya, kecenderungan semua institusi (termasuk gereja) adalah mempertahankan sistem, berpedoman pada “apa yang biasanya dilakukan”, rentan terhadap perubahan, dan kurang luwes ketika menghadapi suatu situasi yang khusus. Hal ini bukan berarti aturan atau sistem tidak perlu.

Hal tersebut tentu tetap diperlukan agar sebuah organisasi dapat ditata dengan apik. Namun, semestinya aturan dan sistem diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Tetap yang utama adalah tujuan, karena hal tersebut bersifat prinsip atau esensial. Tujuan gereja adalah mewartakan kasih, aturan adalah alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam Lukas 13:10-17, kita membaca suatu narasi yang menceritakan seorang kepala rumah ibadat menjadi gusar atau marah, karena Yesus menyembuhkan atau melepaskan seorang perempuan yang kerasukan roh, hingga badannya bungkuk selama 18 tahun. Penyembuhan itu terjadi pada hari sabat. Itulah yang membuatnya marah, karena menurutnya, penyembuhan itu dapat ditunda satu hari lagi, sehingga tidak perlu melanggar peraturan sabat. Dengan kata lain, baginya pelaksanaan peraturan Sabat lebih penting daripada substansinya.

Namun, Yesus menjawab dengan mengacu pada peraturan yang mereka buat sendiri untuk kepentingan mereka yaitu peraturan agar ternak boleh dilepas dan dibawa ke tempat minum pada hari sabat. Yesus hendak menegur kepala rumah ibadat dan para pemuka agama bahwa perempuan yang bungkuk itu lebih penting dari binatang ternak mereka. Ia adalah keturunan Abraham, yang artinya “sesama manusia” yang sedang “diikat” oleh roh yang menyakitinya. Bukankah perempuan itu juga harus dilepaskan/dibebaskan” dari ikatan itu? Jadi, berfokuslah pada kemanusiaan, bukan peraturan. Peraturan menolong orang menjalankan kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Kitab Yesaya 58:9b-14 juga mengingatkan kita bahwa praktik ibadat sebagai sebuah aksi kemanusiaan jauh lebih penting daripada ibadat sebagai sebuah selebrasi atau ritual keagamaan belaka. Puasa dan hari Sabat yang dikehendaki oleh Tuhan adalah ketika mereka hidup dengan tidak menindas orang lain, tidak semena-mena dan tidak memfitnah, memiliki hati yang berempati pada sesama yang menderita, tidak egois dengan hanya memikirkan urusannya sendiri, tetapi juga ikut memikirkan apa yang menjadi kepentingan orang lain.

Kehadiran Yesus di antara manusia, hendak mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih. Ia sangat dekat dengan umat-Nya. Dalam Yesus, kita menghayati bahwa beriman kepada Allah bukanlah beriman di bawah ancaman hukum Taurat atau di bawah tekanan rasa takut. Beriman kepada Yesus adalah beriman yang menyenangkan, karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh kasih dan dapat dijangkau oleh kita.

Seperti yang digambarkan dalam Mazmur 103. Tuhan itu seperti bapa yang baik, yang panjang sabar, penuh pengertian, dan tidak memperlakukan anak-anak-Nya setimpal dengan dosa dosanya. Allah tahu kapabilitas kita sebagai manusia yangberasal dari debu. Itulah sebabnya,Ia mengasihi kita. Karena itu, kita perlu mengucap syukur dengan beribadah kepada Tuhan menurut cara yang berkenan kepada-Nya.

Mari kita beribadah kepada Tuhan menurut cara yang berkenan kepada-Nya. Gereja perlu mengajarkan kepada umat bagaimana beribadah dengan menekankan cinta kasih kepada sesama sebagai yang utama dan menjadikan aturan atau sistem sebagai alat bagi pelayanan.

Ketika kasih dapat dirasakan dalam hubungan antar manusia, maka persekutuan dengan Allah dapat terwujud. Kasih itu terwujud dalam sikap saling menghargai, berkeadilan, dan memanusiakan manusia. Dengan demikian, pembangunan jemaat dapat dilakukan secara holistik, baik secara rohani maupun jasmani. Mari kita mengasihi seperti Yesus mengasihi kita tanpa batas. Amin.

Media Sosial Kami
https://gkjkronelan.or.id/
https://s.gkjkronelan.or.id/informasi/

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − twelve =